Tradisi “Uncalan” dalam Lamaran Madura, Simbol Dukungan Sosial bagi Calon Pengantin

  • Apr 14, 2026
  • SAMSUL ARIFIN

 

Lumajang, 14 April 2026 – Tradisi lamaran masyarakat Madura kembali menjadi sorotan karena keunikannya yang sarat makna. Salah satu prosesi yang masih dijalankan hingga kini adalah “uncalan”, yaitu pemberian uang dari keluarga dan tetangga kepada calon pengantin perempuan saat berkunjung ke rumah pihak laki-laki.

Dalam pelaksanaannya, calon mempelai perempuan datang ke rumah calon mempelai laki-laki bersama keluarga. Ia kemudian dipersilakan duduk di kursi dan didampingi oleh ibu dari pihak laki-laki. Pada momen inilah, satu per satu keluarga besar serta tetangga dari kedua belah pihak memberikan uang secara langsung kepada calon pengantin perempuan.

Tradisi uncalan tidak hanya menjadi bagian dari prosesi adat, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong dalam masyarakat. Uang yang diberikan biasanya dimaksudkan sebagai bentuk dukungan awal untuk kehidupan rumah tangga pasangan yang akan menikah.

Salah satu warga, Siti Aminah, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak lama dan tetap dijaga hingga sekarang.
“Uncalan ini bentuk perhatian dari keluarga dan tetangga. Jadi bukan hanya dua orang yang menikah, tapi seluruh lingkungan ikut mendukung,” ujarnya.

Selain itu, suasana dalam prosesi uncalan biasanya berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Interaksi antarwarga yang hadir juga memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekitar, sekaligus menjadi ajang silaturahmi.

Meski zaman terus berkembang, masyarakat Madura di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Lumajang, masih mempertahankan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya. Tradisi uncalan dinilai tidak hanya memiliki nilai adat, tetapi juga mengandung makna sosial yang kuat dalam membangun solidaritas antarwarga.

Dengan tetap dilestarikannya tradisi ini, diharapkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.