Progres dan Realita Lapangan Sensus Ekonomi 2026 di Desa Sumberwuluh

  • Jul 19, 2026
  • SAMSUL ARIFIN

SUMBERWULUH, 19 Juli 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) kembali menggelar hajatan besar berskala nasional yang krusial bagi masa depan pembangunan, yakni Sensus Ekonomi (SE) 2026. Perhelatan sepuluh tahunan ini dijadwalkan berlangsung selama empat bulan penuh, terhitung mulai tanggal 1 Mei hingga 31 Agustus 2026. Di tingkat akar rumput, dinamika dan perjuangan para petugas mulai terlihat nyata dalam memotret potret riil perekonomian masyarakat, tak terkecuali di Desa Sumberwuluh.

Hingga pertengahan periode pelaksanaan ini, pergerakan pengumpulan data dari Desa Sumberwuluh menunjukkan tren yang positif namun cukup bervariasi. Sebanyak 9 orang Petugas Pencacah Lapangan (PPL) yang diterjunkan di desa ini terus bergerak menyisir setiap sudut wilayah. Mereka memikul tanggung jawab besar demi memastikan seluruh unit usaha—baik skala formal maupun sektor informal—tercatat dengan akurat dan tanpa terlewat. Progres Kerja yang Bervariasi di Lapangan, ,enurut laporan pemantauan data terbaru, seluruh PPL di Desa Sumberwuluh tercatat sudah menunjukkan progres kerja yang signifikan. Meski begitu, kecepatan dan capaian dari masing-masing petugas di lapangan cukup beragam. Hal ini sangat dipengaruhi oleh karakteristik wilayah tugas serta respons dari responden yang berbeda-beda di setiap wilayah RT dan RW.

"Saat ini, dari 9 orang PPL yang bertugas di Desa Sumberwuluh, semuanya sudah berjalan dan mencatatkan progres. Angkanya bermacam-macam, ada yang baru mencapai 49%, ada yang menyentuh 53%, bahkan ada petugas yang pergerakannya sangat cepat hingga sudah mencapai 94%," ujar Yatimah, selaku Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) Desa Sumberwuluh. Pihak PML terus melakukan supervisi ketat dan pendampingan di lapangan. Langkah ini diambil agar petugas yang capaiannya masih berada di kisaran 50% dapat segera memacu ritme kerjanya. Bagaimanapun, batas akhir pencacahan kini kian dekat, menyisakan waktu efektif sekitar satu setengah bulan lagi hingga akhir Agustus nanti. 

Ragam Kendala dan "Drama" Pencacahan, Melakukan pendataan ekonomi di tengah masyarakat yang heterogen tentu bukan perkara mudah. Yatimah membeberkan sejumlah kendala klasik namun krusial yang kerap dihadapi oleh para PPL saat mengetuk pintu demi pintu rumah warga. Salah satu hambatan utama adalah masalah mobilitas warga yang tinggi. Petugas seringkali harus kembali berkali-kali ke satu rumah karena pemilik usaha atau anggota rumah tangga yang kompeten untuk menjawab pertanyaan sedang tidak berada di tempat saat dikunjungi.  Namun, tantangan terbesar justru datang dari penolakan langsung secara verbal. "Kendala di lapangan kadang kala ada yang saat disensus tidak bertemu, kadang ada juga warga yang memang secara terang-terangan tidak mau disensus dengan berbagai alasan, serta ada lagi kendala teknis dan non-teknis lainnya," urai Yatimah.  Antara Amarah Bantuan dan Tempat Curhat, Lebih lanjut, Yatimah menceritakan bahwa ruang lingkup kerja PPL tidak hanya menguras energi fisik saja, tetapi juga mental. Selama proses wawancara yang berlangsung berminggu-minggu ini, banyak keluh kesah yang mengalir dari para petugas lapangan mengenai respons psikologis dari masyarakat.

  • Sasaran Amarah Terkait Bantuan Sosial: Tidak sedikit petugas PPL yang menjadi sasaran salah alamat dari kemarahan warga. Sebagian warga meluapkan kekesalannya kepada petugas sensus hanya karena mereka merasa tidak pernah mendapatkan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. Padahal, Sensus Ekonomi murni bertujuan untuk memetakan struktur ekonomi nasional, bukan sebagai instrumen seleksi atau validasi penerima bantuan sosial.

  • Menjadi Tempat Curahan Hati (Curhat): Di sisi lain, ada pula sisi humanis yang menyentuh hati. Beberapa petugas justru disambut dengan sangat hangat dan dijadikan tempat mencurahkan isi hati oleh warga yang mengeluhkan kondisi ekonomi mereka yang sedang sulit, biaya hidup yang kian tinggi, hingga sepinya pembeli pada lapak dagangan mereka.

Pengalaman unik ini salah satunya dirasakan saat petugas menyambangi kediaman Hanifah (39), seorang warga yang berstatus sebagai janda di kawasan Dusun Sumberwuluh Tengah. Saat didatangi petugas, Hanifah menyambut baik kedatangan PPL meski ia juga memanfaatkan momen tersebut untuk berbagi cerita mengenai perjuangannya sehari-hari dalam menopang ekonomi keluarga secara mandiri di tengah situasi yang tidak menentu.

Meskipun harus menghadapi dinamika lapangan yang penuh warna—mulai dari penolakan, kemarahan, hingga curhatan emosional warga—9 PPL Desa Sumberwuluh berkomitmen untuk tetap profesional. Pihak BPS melalui dedikasi para PML terus memotivasi petugas agar tetap menjaga integritas data demi menghasilkan peta ekonomi yang akurat untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.