Penyerahan Gunungan Wayang dari Kepala Desa Kepada Dalang tanda dimulainya pagelaran wayang kulit

  • Jul 05, 2026
  • SAMSUL ARIFIN

LUMAJANG – Nuansa budaya Jawa yang kental menyelimuti Balai Desa Sumberwuluh pada Sabtu malam (4/7/2026). Ratusan warga tampak memadati area pendopo untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara ini digelar oleh Pemerintah Desa Sumberwuluh sebagai wujud syukur sekaligus upaya melestarikan warisan leluhur nusantara.

Tepat pada pukul 21.00 WIB, suasana yang riuh mendadak khidmat. Acara inti dimulai dengan prosesi penyerahan tokoh wayang (gunungan) oleh Kepala Desa Sumberwuluh, Bapak Sulhan, kepada sang maestro dalang, Ki Rudi Gareng yang didatangkan langsung dari Blitar. Penyerahan gunungan ini menjadi simbol sakral bahwa pagelaran wayang kulit secara resmi dibuka dan siap dimulai. Simbolisme Penyerahan Gunungan. Dalam sambutannya sebelum menyerahkan gunungan, Kepala Desa Sumberwuluh, Bapak Sulhan, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sarana refleksi spiritual dan penguat tali silaturahmi antarwarga.

"Penyerahan gunungan ini adalah tanda bahwa kita memulai sebuah tuntunan, bukan tontonan saja. Kami berharap nilai-nilai luhur yang ada dalam lakon malam ini bisa diserap dan diterapkan oleh seluruh warga Desa Sumberwuluh dalam kehidupan sehari-hari," ujar Bapak Sulhan di atas panggung.

Setelah prosesi penyerahan selesai, Ki Rudi Gareng langsung mengambil posisi di depan kelir (layar kain). Dengan kepiawaiannya yang sudah tersohor, dalang asal Blitar tersebut mulai memainkan tokoh-tokoh wayang, diiringi oleh alunan gending Jawa yang rancak dari tim karawitan. Lakon "Wahyu Trimanggolo": Pesan Kepemimpinan dan Keberkahan, Pada pagelaran kali ini, lakon yang diangkat adalah "Wahyu Trimanggolo". Dalam khazanah pewayangan, lakon ini mengisahkan tentang turunnya tiga anugerah atau wahyu kepemimpinan yang membawa kemakmuran, keadilan, dan ketenteraman bagi sebuah wilayah. Lakon ini sengaja dipilih karena dinilai sangat relevan dengan harapan masyarakat Desa Sumberwuluh untuk masa depan yang lebih gemilang.

Ki Rudi Gareng berhasil membawakan lakon ini dengan sangat apik. Karakter jenaka khas punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) sukses mengocok perut penonton di sesi goro-goro, namun tidak mengurangi kedalaman pesan moral yang ingin disampaikan mengenai pentingnya integritas, gotong royong, dan kebijaksanaan. Antusiasme Warga yang Luar Biasa, Kemeriahan acara ini juga membawa dampak positif bagi roda perekonomian lokal. Puluhan pedagang kaki lima dan UMKM desa tampak meraup berkah dengan menjajakan aneka kuliner dan mainan di sekitar Balai Desa sejak sore hari.

Hingga dini hari, antusiasme warga tidak surut. Kehadiran Ki Rudi Gareng dari Blitar benar-benar memukau masyarakat Sumberwuluh, mengukuhkan malam minggu tersebut sebagai malam kebudayaan yang penuh makna dan tak terlupakan bagi seluruh warga desa.