Lestarikan Tradisi, Desa Sumberwuluh Gelar Pagelaran Wayang Kulit "Wahyu Trimanggolo" Bersama Ki Rudi Gareng
- Jul 04, 2026
- SAMSUL ARIFIN
LUMAJANG – Antusiasme warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, pecah dalam malam puncak perayaan tradisi desa yang digelar pada Sabtu, 4 Juli 2026. Ribuan pasang mata menyatu di lapangan utama desa untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Acara yang menjadi agenda tahunan ini menghadirkan dalang kondang asal Blitar, Ki Rudi Gareng, yang membawakan lakon sakral dan penuh filosofi, "Wahyu Trimanggolo".
Sejak petang, kawasan sekitar panggung utama sudah dipadati oleh pedagang kaki lima dan warga yang berbondong-bondong membawa tikar. Suasana semakin semarak dengan alunan gending Jawa yang bertalu-talu dari kelompok pengrawit, menyambut kedatangan para tokoh masyarakat, perangkat desa, serta tamu undangan dari luar daerah.Kepala Desa Sumberwuluh dalam sambutannya menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit ini bukan sekadar hiburan musiman. Kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur seluruh warga desa atas berkah kesuburan tanah, keselamatan, dan kedamaian yang dinikmati selama setahun terakhir.
"Wayang kulit adalah warisan leluhur yang sarat akan tatanan dan tuntunan. Melalui momentum ini, kita tidak hanya melestarikan budaya bangsa, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan gotong royong antarwarga Desa Sumberwuluh," ujarnya sebelum menyerahkan tokoh wayang secara simbolis kepada sang dalang.
Tepat pukul 21.00 WIB, suasana berubah khidmat saat lampu sorot utama menerangi kelir (layar putih). Ki Rudi Gareng memulai pertunjukan dengan sabetan wayang yang dinamis dan banyolan-banyolan segar khas Blitaran yang langsung memancing gelak tawa penonton.
Lakon yang diangkat malam itu, Wahyu Trimanggolo, mengisahkan tentang turunnya tiga anugerah spiritual atau kejayaan dari langit yang menjadi rebutan para ksatria. Dalam jagat pewayangan, wahyu ini melambangkan tiga pilar utama kehidupan:
-
Kebijaksanaan dalam memimpin,
-
Kemakmuran yang merata, dan
-
Keteguhan iman dalam menghadapi rintangan.
Melalui karakter kesayangan masyarakat, seperti punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong), Ki Rudi Gareng menyelipkan pesan-pesan moral yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian alam dan keharmonisan sosial, khususnya bagi masyarakat Desa Sumberwuluh yang hidup di lereng Gunung Semeru.Kemeriahan acara ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan warga hingga hari berikutnya. Bagi Anda yang belum sempat menyaksikan secara langsung atau ingin merasakan kembali atmosfer magis malam itu, dokumentasi visual dan rekaman penuh pertunjukan telah disediakan oleh panitia melalui kanal digital desa.