Wujudkan Ketangguhan Bencana, Sekdes Sumberwuluh Hadiri Peresmian "Disaster Heritage Mobile Museum

  • May 13, 2026
  • SAMSUL ARIFIN

LUMAJANG – Pemerintah Kabupaten Lumajang resmi meluncurkan inisiatif baru dalam upaya edukasi kebencanaan melalui peresmian program kolaboratif Benteng Mitigasi Bencana Indonesia (Disaster Heritage Mobile Museum). Acara yang berlangsung khidmat pada Rabu, 13 Mei 2026 ini, bertempat di Lobby Kantor Bupati Lumajang dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk perangkat desa dari wilayah rawan bencana.

Salah satu sosok yang hadir memberikan dukungan penuh adalah Sekretaris Desa (Sekdes) Sumberwuluh. Kehadiran perwakilan dari Desa Sumberwuluh ini menjadi krusial, mengingat desa tersebut merupakan salah satu wilayah yang memiliki rekam jejak sejarah panjang terkait dampak erupsi Gunung Semeru. Program ini dinilai sebagai langkah revolusioner dalam mengubah trauma masa lalu menjadi pengetahuan yang menyelamatkan nyawa di masa depan.Sinergi Strategis IIF dan Yayasan Megamind Project

Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Indonesia Infrastructure Finance (IIF) dan Yayasan Megamind Project. Disaster Heritage Mobile Museum sendiri adalah konsep museum bergerak yang membawa arsip, dokumentasi, dan teknologi simulasi mitigasi langsung ke tengah masyarakat.

Dalam sambutannya, perwakilan Yayasan Megamind Project menjelaskan bahwa proyek ini bertujuan untuk merawat "ingatan kolektif" masyarakat tentang bencana. Dengan memahami apa yang terjadi di masa lalu, masyarakat diharapkan tidak lagi gagap saat menghadapi ancaman serupa.

Acara dibuka secara resmi oleh Bupati Lumajang, Indah Amperawati atau yang akrab disapa Bunda Indah. Dalam arahannya, Bunda Indah menekankan bahwa Kabupaten Lumajang harus menjadi laboratorium mitigasi bencana yang paling adaptif di Indonesia.

"Bencana adalah bagian dari sejarah kita, tapi tidak boleh menjadi masa depan yang kelam. Melalui Mobile Museum ini, kita membawa edukasi dengan cara yang lebih dekat, lebih menyentuh, dan mudah dipahami oleh anak-anak hingga lansia," ujar Bunda Indah sebelum memotong pita peresmian.

Beliau juga mengapresiasi kehadiran para perangkat desa, seperti Sekdes Sumberwuluh, yang menjadi ujung tombak dalam menyampaikan pesan mitigasi kepada warga di tingkat akar rumput.

Ditemui di sela-sela acara, Sekdes Sumberwuluh menyatakan rasa optimisnya terhadap program ini. Menurutnya, selama ini edukasi mitigasi seringkali terasa membosankan karena hanya bersifat teori.

Beberapa poin keunggulan program menurut pandangan desa:

  • Aksesibilitas: Karena bersifat mobile, museum ini dapat menjangkau dusun-dusun terpencil di lereng Semeru.

  • Visualisasi Sejarah: Menampilkan artefak dan foto dampak bencana yang membuat warga lebih waspada secara visual.

  • Literasi Bencana: Memberikan pemahaman bahwa mitigasi bukan hanya soal lari saat kejadian, tapi soal kesiapan jangka panjang.

"Kami di Sumberwuluh sangat berterima kasih. Dengan adanya Disaster Heritage Mobile Museum ini, kami berharap anak cucu kami nantinya tidak hanya tahu bahwa daerah mereka rawan, tapi mereka tahu persis apa yang harus dilakukan untuk tetap aman," ungkap Sekdes Sumberwuluh.

Peluncuran ini menandai dimulainya tur museum keliling yang akan menyambangi sekolah-sekolah dan balai desa di seluruh wilayah terdampak di Lumajang. Dukungan penuh dari IIF memastikan fasilitas di dalam museum ini menggunakan standar internasional, mulai dari videografi dokumenter hingga alat peraga edukasi interaktif.Dengan resminya program ini, Lumajang kembali membuktikan komitmennya sebagai daerah yang tidak hanya fokus pada pemulihan fisik pascabencana, tetapi juga pada penguatan kapasitas mental dan pengetahuan warganya melalui pendekatan budaya dan sejarah