Edukasi Bencana Bergerak: Disaster Heritage Mobile Museum Mulai Sasar Sekolah di Supiturang dan Sumberwuluh

  • May 13, 2026
  • SAMSUL ARIFIN

LUMAJANG – Pasca peluncuran resminya di Kantor Bupati Lumajang, program kolaboratif Disaster Heritage Mobile Museum (Benteng Mitigasi Bencana Indonesia) kini resmi memulai perjalanan edukasinya. Dua desa di lereng Gunung Semeru yang memiliki sejarah panjang terhadap dampak vulkanik, yakni Desa Supiturang dan Desa Sumberwuluh, menjadi destinasi utama prioritas dalam misi kemanusiaan ini.

Program yang diinisiasi oleh Indonesia Infrastructure Finance (IIF) bersama Yayasan Megamind Project ini dirancang khusus untuk membawa pengetahuan mitigasi langsung ke jantung wilayah terdampak. Fokus utamanya adalah anak-anak usia sekolah, yang merupakan kelompok paling rentan sekaligus agen perubahan paling potensial dalam menyebarkan budaya sadar bencana di lingkungan keluarga.

Di Desa Supiturang dan Sumberwuluh, Mobile Museum ini tidak hanya hadir sebagai unit pameran statis, tetapi sebagai ruang kelas interaktif yang dinamis. Armada yang telah dimodifikasi sedemikian rupa ini membawa berbagai arsip visual, dokumentasi sejarah erupsi, serta artefak sisa bencana yang telah dikurasi untuk memberikan gambaran nyata tanpa menimbulkan trauma mendalam bagi siswa.

"Anak-anak perlu memahami bahwa tanah yang mereka injak memiliki cerita. Dengan melihat bukti sejarah dalam museum keliling ini, mereka belajar menghargai alam sekaligus waspada terhadap tanda-tandanya," ujar perwakilan dari Yayasan Megamind Project.

Materi edukasi yang disajikan meliputi:

  • Audio-Visual Literasi: Pemutaran video pendek mengenai siklus hidup Gunung Semeru dan cara kerja sistem peringatan dini (EWS).

  • Simulasi Interaktif: Praktik langsung mengenai langkah-langkah evakuasi mandiri saat berada di lingkungan sekolah.

  • Pameran Fotografi Sejarah: Dokumentasi transformasi wilayah sebelum dan sesudah bencana sebagai bahan ajar geografi lokal.


Antusiasme dan Harapan di Garis Depan

Pemerintah Desa, termasuk para Sekretaris Desa di Supiturang dan Sumberwuluh, menyambut hangat kehadiran armada edukasi ini. Bagi mereka, kendala utama dalam mitigasi selama ini adalah akses informasi yang seringkali terbatas pada forum-forum formal orang dewasa.

"Selama ini edukasi untuk anak-anak sekolah seringkali terbatas pada buku teks. Dengan adanya Mobile Museum yang masuk langsung ke halaman sekolah kami, antusiasme siswa meningkat drastis. Mereka belajar sambil bermain dan melihat bukti sejarah secara langsung," tutur perangkat desa setempat.

Kehadiran program ini juga mendapat dukungan penuh dari para guru. Mereka menilai bahwa pendekatan "Disaster Heritage" atau warisan bencana adalah cara yang sangat efektif untuk membangun koneksi emosional siswa terhadap keamanan lingkungan mereka sendiri.Sinergi untuk Ketangguhan Jangka Panjang,Keterlibatan IIF dalam proyek ini menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya soal fisik, tetapi juga "infrastruktur sosial" berupa kesiapan mental masyarakat. Dengan membekali siswa di Supiturang dan Sumberwuluh sejak dini, diharapkan rantai informasi mitigasi tidak akan terputus.

Anak-anak sekolah diajarkan untuk mengenali jalur evakuasi di desa mereka sendiri dan memahami fungsi rambu-rambu bencana yang terpasang di sepanjang jalan. Harapannya, mereka mampu menjadi "pemberi peringatan" di rumah masing-masing jika melihat tanda-tanda alam yang mencurigakan.Setelah menyelesaikan misi di sekolah-sekolah di Desa Supiturang dan Sumberwuluh, Disaster Heritage Mobile Museum direncanakan akan terus bergerak menyisir desa-desa lain di zona merah peta rawan bencana Lumajang. Pemerintah Kabupaten Lumajang berharap model edukasi keliling ini dapat menjadi percontohan nasional dalam upaya membangun masyarakat yang tidak hanya pasrah pada alam, tetapi cerdas dan tangguh dalam menghadapinya.Dengan dimulainya perjalanan ini, sejarah bencana tidak lagi hanya menjadi catatan duka, melainkan pondasi bagi terciptanya generasi masa depan yang selamat dan waspada.