Warga Serbu Bazar Murah Bumdes Sumberrezeki, Telur dan Lele Hasil Mandiri Jadi Primadona
- Mar 15, 2026
- SAMSUL ARIFIN
Suasana Balai Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, tampak lebih ramai dari biasanya pada Minggu pagi (15/03/2026). Ratusan warga terlihat antre dengan tertib demi mendapatkan komoditas pangan murah dalam gelaran Bazar Ramadhan yang diinisiasi oleh Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumberrezeki. Program ini menjadi oase di tengah fluktuasi harga pangan yang kerap melonjak selama bulan suci. Uniknya, seluruh barang yang dijajakan, seperti telur ayam ras dan ikan lele, bukanlah diambil dari distributor besar atau tengkulak, melainkan murni hasil unit usaha ketahanan pangan yang dikelola mandiri oleh Bumdes Sumberrezeki. Respons Positif dan Antusiasme warga Salah satu warga Dusun Sumberwuluh Tengah, Sutini, mengungkapkan rasa syukurnya atas inisiatif pemerintah desa ini. Baginya, selisih harga beberapa ribu rupiah sangat berarti untuk menjaga dapur tetap mengepul di tengah beban ekonomi yang meningkat. "Alhamdulillah, harganya sangat murah dan membantu sekali. Di pasar harga telur sudah tinggi, di sini kita bisa dapat harga jauh di bawah itu," ujar Sutini dengan wajah sumringah setelah berhasil mendapatkan jatah belanjaannya.
Meski merasa terbantu, Sutini memberikan catatan kecil terkait sistem pembelian. Panitia menerapkan aturan ketat berupa pembatasan kuota maksimal 1 kilogram per orang untuk setiap komoditas. "Tapi sayang, belinya dibatasi cuma 1 kilogram per orang. Padahal kalau boleh ingin beli lebih untuk stok di rumah," tambahnya. Namun, ia pun memaklumi kebijakan tersebut sebagai langkah adil dari pihak pengelola. "Tapi niatnya bagus juga, supaya merata dan semua warga kebagian, tidak diborong oleh segelintir orang saja," pungkasnya bijak. Komitmen Bumdes untuk Kesejahteraan, Ketua Bumdes Sumberrezeki, Ibu Poniah, menjelaskan bahwa kebijakan pembatasan pembelian memang sengaja diberlakukan agar manfaat program ketahanan pangan ini bisa dirasakan secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat Desa Sumberwuluh.
"Kami menjual telur seharga Rp26.000 per kilogram, padahal di warung sudah Rp29.000. Untuk lele, kami lepas di harga Rp18.000 per kilogram dari harga pasar yang mencapai Rp20.000. Selisih harga ini adalah subsidi langsung dari hasil produksi mandiri kami," jelas Ibu Poniah. Keberhasilan ini membuktikan bahwa penyertaan modal desa untuk sektor peternakan ayam petelur dan budidaya ikan lele telah membuahkan hasil nyata. Dengan memotong rantai distribusi, Bumdes mampu menghadirkan pangan segar langsung dari kandang dan kolam ke meja makan warga. Harapan Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Kepala Desa Sumberwuluh menyampaikan apresiasi atas kinerja pengurus Bumdes yang sigap dalam merespons kebutuhan warga. Kegiatan bazar ini tidak hanya menjadi aksi sosial di bulan Ramadhan, tetapi juga bukti nyata keberhasilan transformasi ekonomi desa. Melihat tingginya animo masyarakat, Pemerintah Desa Sumberwuluh berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi unit ketahanan pangan mereka. Kedepannya, direncanakan akan ada diversifikasi produk pangan lainnya agar Desa Sumberwuluh bisa benar-benar mandiri secara pangan dan kuat dalam menghadapi tekanan inflasi global. Bazar ini diakhiri sebelum siang hari karena stok yang tersedia habis terjual dalam waktu singkat, membuktikan bahwa kehadiran Bumdes Sumberrezeki kini menjadi tulang punggung baru bagi ekonomi masyarakat desa.