Dengar Aspirasi Kasun Sumberwuluh, Megamind Project dan IIF Matangkan Strategi 'Benteng Mitigasi'
- Feb 02, 2026
- SAMSUL ARIFIN
LUMAJANG (02 Februari 2026) – Langkah strategis dalam memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman bencana alam mulai dimatangkan di kaki Gunung Semeru. Yayasan Revolusi dan Bersinergi (Megamind Project) yang jauh-jauh datang dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berkolaborasi dengan Yayasan Indonesia Indah Foundation (IIF) melakukan observasi awal di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Lumajang, pada Senin (02/02).
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah misi pengumpulan data primer untuk menyusun agenda besar bernama "Benteng Mitigasi Bencana Alam". Fokus utama hari ini adalah berdialog langsung dengan para Kepala Dusun (Kasun) se-Desa Sumberwuluh guna menyerap aspirasi dan memahami dinamika akar rumput.
Dalam diskusi ringan yang berlangsung hangat di balai pertemuan, para Kepala Dusun menyatakan antusiasme yang tinggi terhadap rencana edukasi mitigasi bagi warga mereka. Para Kasun mengakui bahwa meskipun wilayah mereka memiliki risiko bencana yang nyata, peningkatan kapasitas masyarakat melalui edukasi masih sangat dibutuhkan untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di masa depan.
Namun, diskusi ini juga mengungkap tantangan sosiologis yang harus dihadapi. Pak Sunar, Kepala Dusun Kebondeli Utara, memberikan catatan penting dalam sesi koordinasi tersebut. Ia menekankan bahwa pendekatan kepada masyarakat tidak bisa dilakukan secara seragam karena karakter warga yang sangat beragam.
"Jika nantinya kegiatan edukasi ini dilaksanakan, kami berharap tim penyelenggara bisa ekstra sabar. Karakter warga kami berbeda-beda, ada yang cepat menerima informasi, ada juga yang butuh pendekatan khusus. Kuncinya adalah kesabaran dalam memberikan pemahaman," ujar Pak Sunar di hadapan tim Megamind Project dan IIF.
Merespons masukan tersebut, tim Megamind Project menegaskan bahwa program "Benteng Mitigasi" tidak akan bersifat kaku. Data yang dikumpulkan selama observasi—termasuk profil psikososial warga yang disampaikan para Kasun—akan dijadikan acuan dalam menyusun metode pelatihan yang tepat sasaran.
Selain memetakan jalur evakuasi dan titik rawan secara fisik, tim juga mulai mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat, seperti:
-
Sistem Peringatan Dini Berbasis Komunitas: Memastikan informasi sampai ke telinga warga paling pelosok dengan cepat.
-
Edukasi Berkelanjutan: Menyasar generasi muda sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga.
-
Penghijauan dan Infrastruktur: Menilai kondisi lahan kritis yang memerlukan penanaman pohon sebagai penahan alami material bencana.
Keterlibatan Megamind Project dari Jawa Barat menunjukkan bahwa isu mitigasi bencana adalah tanggung jawab kolektif yang melampaui batas administratif. Sementara itu, IIF berperan memastikan bahwa setiap langkah mitigasi yang diambil selaras dengan standar pelestarian lingkungan dan kemanusiaan yang inklusif.
"Kami tidak ingin hanya membangun infrastruktur fisik. Sesuai masukan para Kasun, kami akan fokus membangun 'benteng' pengetahuan dan kesiapan mental. Sabar dalam proses adalah komitmen kami agar edukasi ini benar-benar meresap ke sanubari warga," pungkas perwakilan tim observasi.
Kegiatan observasi awal ini menjadi pondasi krusial bagi pelaksanaan aksi nyata di Desa Sumberwuluh. Dengan dukungan penuh dari para perangkat kewilayahan (Kasun) dan semangat kolaborasi antar-yayasan, Desa Sumberwuluh diharapkan mampu bertransformasi menjadi desa tangguh bencana yang mandiri dan waspada.