Cerita Ibu Hayati Rutin Kawal Tumbuh Kembang Balita di Posyandu ILP Sumberwuluh
- Mar 11, 2026
- SAMSUL ARIFIN
Pagi yang cerah di Desa Sumberwuluh diwarnai dengan hiruk-pikuk para ibu yang menggendong balitanya menuju balai pertemuan. Di antara kerumunan tersebut, tampak Ibu Hayati Bondeli Selatan, seorang warga yang dikenal sangat disiplin dalam urusan kesehatan keluarga. Dengan senyum ramah, ia menggendong putra kecilnya untuk mengikuti rangkaian kegiatan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) yang rutin digelar setiap bulan.
Bagi Ibu Hayati, datang ke Posyandu bukan sekadar menggugurkan kewajiban sebagai warga desa atau sekadar mendapatkan tambahan asupan gizi. Ia memandang setiap timbangan berat badan dan setiap tetes vitamin sebagai investasi jangka panjang bagi buah hatinya. Di tengah tantangan kesehatan global dan isu stunting yang sedang diperangi pemerintah, Ibu Hayati menjadi salah satu teladan bagaimana peran orang tua sangat krusial di tingkat akar rumput. Ia memahami bahwa masa emas pertumbuhan anak tidak akan terulang kembali.
"Alhamdulillah, saya rutin membawa putra saya ke sini. Ini semua saya lakukan demi masa depan putra saya agar selalu sehat dan pertumbuhannya terpantau dengan baik," ujar Ibu Hayati dengan penuh syukur saat ditemui di sela-sela pemeriksaan. Menurutnya, informasi yang didapatkan dari petugas kesehatan dan kader di Posyandu sangatlah berharga. Dengan rutin hadir, ia bisa mengetahui secara pasti apakah grafik pertumbuhan anaknya berada di jalur yang benar atau memerlukan perhatian khusus.
Penerapan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP) di Desa Sumberwuluh memberikan warna baru bagi layanan kesehatan masyarakat. Jika dulu Posyandu seringkali dianggap hanya tempat menimbang badan, kini layanannya jauh lebih komprehensif. Melalui ILP, petugas tidak hanya fokus pada satu titik, tetapi melihat kesehatan anak secara menyeluruh—mulai dari status gizi, kelengkapan imunisasi, hingga deteksi dini potensi penyakit.
Ibu Hayati merasakan perbedaan tersebut. Ia merasa lebih tenang karena pemeriksaan yang dilakukan kini lebih mendetail. Selain pemeriksaan fisik, ia juga sering mendapatkan edukasi mengenai pola asuh dan menu MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang bergizi seimbang namun tetap terjangkau. Kehadiran Ibu Hayati dan putra tercintanya di Posyandu juga menjadi penyemangat bagi para kader KPM (Kader Pembangunan Manusia) dan tenaga kesehatan desa. Kedisiplinan orang tua seperti inilah yang diharapkan dapat menular ke seluruh lapisan masyarakat di Sumberwuluh. Para kader mengungkapkan bahwa partisipasi aktif warga adalah kunci keberhasilan program kesehatan desa. Dengan data yang terkumpul dari setiap kunjungan rutin, desa dapat memetakan kondisi kesehatan masyarakatnya dengan lebih akurat. Hal ini memudahkan intervensi jika sewaktu-waktu ditemukan kasus balita yang mengalami kendala pertumbuhan.
Langkah kaki Ibu Hayati menuju Posyandu setiap bulannya adalah representasi dari kasih sayang seorang ibu yang visioner. Ia percaya bahwa anak yang sehat adalah modal utama bagi kemajuan Desa Sumberwuluh di masa depan. "Harapan saya, putra saya bisa tumbuh kuat dan cerdas. Semoga semua ibu di desa ini juga tetap semangat membawa anaknya ke Posyandu, karena sehat itu mahal dan mencegah itu lebih baik daripada mengobati," pungkasnya sebelum berpamitan dengan para kader.Melalui konsistensi Ibu Hayati Bondeli Selatan, kita diingatkan kembali bahwa perubahan besar bagi bangsa dimulai dari langkah kecil di tingkat desa, yaitu melalui perhatian penuh pada kesehatan balita di Posyandu.