ITB Widya Gama Lumajang Menggelar Sosialisasi Stop Bullying di SDN Sumberwuluh 01
- Aug 16, 2025
- SAMSUL ARIFIN
Sumberwuluh, 16 Agustus 2025 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Widya Gama Lumajang berinisiatif mengadakan sosialisasi anti-perundungan atau stop bullying di SDN Sumberwuluh 01, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa, guru, dan orang tua akan bahaya perundungan dan cara pencegahannya.
Acara yang berlangsung dengan antusiasme tinggi ini dihadiri oleh para siswa, guru, serta perwakilan orang tua. Melda, salah satu mahasiswa KKN yang menjadi narasumber utama, menjelaskan secara rinci tentang berbagai bentuk perundungan dan dampaknya.
Menurut Melda, perundungan adalah perilaku agresif yang dilakukan secara berulang, dengan tujuan menyakiti atau menakuti seseorang. "Ini bisa berupa tindakan fisik seperti memukul atau mendorong, perundungan verbal seperti mengejek atau mengancam, perundungan sosial dengan mengucilkan, atau melalui dunia maya yang kita kenal sebagai cyberbullying," jelasnya. Ia menekankan bahwa perundungan bukanlah hal sepele, melainkan masalah serius yang dapat meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun psikologis, pada korbannya.
Melda juga memaparkan bahwa dampaknya bisa sangat luas, mulai dari menurunnya prestasi akademik, hilangnya rasa percaya diri, hingga memicu depresi. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih peka dan berani bertindak jika melihat atau mengalami perundungan. "Kita tidak boleh diam. Korban harus berani berbicara, dan kita semua harus berani membela," tegas Melda.
Selain menjelaskan definisi dan dampak, sosialisasi ini juga memberikan tips praktis bagi siswa untuk menghadapi perundungan. Para siswa diajarkan untuk mencari bantuan kepada guru atau orang tua jika mereka menjadi korban atau melihat teman mereka dirundung. Mereka juga diajak untuk tidak menjadi penonton pasif, tetapi menjadi pembela yang berani.
Melda juga menyoroti peran sentral sekolah dan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang aman. Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak-anak tentang bahaya perundungan dan menciptakan kebijakan yang jelas dan tegas. "Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan suportif bagi setiap siswa. Hal ini mencakup penerapan kebijakan tegas terhadap perundungan dan mempromosikan budaya saling menghormati," ujarnya.
Sementara itu, orang tua juga memiliki peran krusial. Melda mengimbau para orang tua untuk lebih terbuka dalam berkomunikasi dengan anak-anak mereka. "Orang tua harus menjadi tempat curhat yang aman bagi anak-anak. Tanyakan kabar mereka di sekolah, perhatikan perubahan perilaku, dan ajak mereka bicara tentang apa yang mereka rasakan," imbuh Melda.
Acara sosialisasi ini disambut baik oleh pihak sekolah. Pak Lutfi, salah satu guru di SDN Sumberwuluh 01, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para mahasiswa KKN ITB Widya Gama. "Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik KKN yang telah mengadakan kegiatan yang sangat bermanfaat ini," kata Pak Lutfi. "Materi yang disampaikan sangat membantu kami dalam mencegah dan menangani perundungan di lingkungan sekolah. Ini adalah langkah awal yang baik untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih damai dan harmonis," tambahnya.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada sosialisasi, tetapi juga menjadi pemicu bagi perubahan perilaku di sekolah. Mahasiswa KKN ITB Widya Gama berpesan bahwa lingkungan bebas perundungan dimulai dari komitmen kita semua. Setiap individu, baik siswa, guru, maupun orang tua, memiliki peran untuk menciptakan ruang yang aman, mendukung, dan inklusif.
Melalui sosialisasi ini, ITB Widya Gama Lumajang dan SDN Sumberwuluh 01 menunjukkan komitmennya dalam memerangi perundungan. Upaya kolektif ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati dan rasa hormat terhadap sesama, menjadikan sekolah sebagai tempat yang benar-benar menyenangkan untuk belajar dan tumbuh.