Destana Sumberwuluh Garda Terdepan Pengamanan Jalur Gladak Perak: Waspada Asap Sekunder Saat Banjir

  • Nov 22, 2025
  • SAMSUL ARIFIN

Sumberwuluh, 22 November 2025 – Di tengah ancaman berulang bencana hidrometeorologi dan vulkanologi, kesiapsiagaan masyarakat di sekitar lereng Gunung Semeru terus diuji. Salah satu tim relawan yang paling aktif mengambil peran adalah Desa Tangguh Bencana (Destana) Desa Sumberwuluh. Pada hari Sabtu, 22 November 2025, tim Destana Sumberwuluh terlihat siaga penuh di area strategis Jembatan Gladak Perak, mengawal arus lalu lintas dan memberikan imbauan keselamatan saat banjir lahar dingin tiba.

Jembatan Gladak Perak yang menjadi urat nadi penghubung Lumajang dan Malang, kembali menjadi titik rawan pasca erupsi besar pada 19 November 2025. Selain masalah jalan licin akibat abu vulkanik, bahaya lain yang muncul adalah fenomena asap dari letusan sekunder yang mengepul hebat saat material panas yang tersimpan di bawah jembatan bercampur dengan air banjir.

Menurut pengamatan tim Destana, setiap kali hujan deras turun di puncak dan hulu, material lahar dingin akan membawa air dalam jumlah besar melewati aliran sungai di bawah Gladak Perak. Ketika air ini kontak dengan endapan material vulkanik yang masih panas di dasar sungai, terjadi reaksi kimia dan termal yang menghasilkan asap tebal dan uap air. Asap ini tidak hanya membawa gas sulfur dioksida yang berbau menyengat, tetapi juga mengepul ke atas jembatan, mengganggu jarak pandang dan berpotensi menyebabkan iritasi pernapasan serta mata bagi pengguna jalan.

Beni, salah satu anggota Destana Sumberwuluh yang aktif bertugas di lokasi, menjelaskan pentingnya peran mereka saat kondisi kritis seperti ini. "Setiap kali ada banjir lahar, kami tahu asap dari letusan sekunder pasti akan naik. Kondisi ini membuat visibilitas di atas jembatan menurun drastis, kadang hanya beberapa meter saja. Jelas ini sangat membahayakan," kata Beni.

Oleh karena itu, keberadaan Destana menjadi krusial untuk melakukan pengawalan lalu lintas. Mereka bertugas memasang tanda peringatan, mengatur ritme kendaraan, dan bahkan menghentikan total arus jika intensitas asap dinilai terlalu berbahaya untuk dilewati.

"Kami bersama rekan-rekan terus menghimbau para pengendara yang melewati area Gladak Perak untuk selalu hati-hati. Bukan hanya karena licin, tapi juga karena asap yang mendadak bisa tebal," tambah Beni. Ia menyoroti khususnya pengendara roda dua yang paling rentan terhadap asap dan kondisi jalan yang mendadak tidak terlihat. Anggota Destana juga dilengkapi dengan alat komunikasi radio (HT) untuk berkoordinasi cepat dengan pihak kepolisian dan petugas tanggap darurat lainnya mengenai perkembangan kondisi di hulu.

Peran Destana Sumberwuluh melampaui sekadar pengawalan lalu lintas. Mereka adalah ujung tombak informasi di tingkat desa. Mereka bertanggung jawab menyebarkan peringatan dini kepada warga sekitar sungai untuk segera mengevakuasi diri atau ternak jika terdengar gemuruh lahar dingin. Keterlibatan aktif ini merupakan hasil dari pelatihan mitigasi bencana yang telah mereka terima, menjadikannya kelompok yang siap bertindak cepat dan terorganisir.

Supri, seorang warga yang rutin melewati jalur ini, menyatakan apresiasinya. "Melihat Destana di sini membuat kami merasa lebih aman. Mereka yang paling tahu kapan banjir akan datang dan kapan asap itu mulai muncul. Mereka bukan hanya mengatur jalan, tapi juga memberikan rasa tenang," ujarnya.

Aksi sigap Destana Sumberwuluh ini adalah contoh nyata kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam menghadapi ancaman bencana. Di tengah keterbatasan sumber daya dan peralatan, semangat kerelawanan dan pengetahuan lokal menjadi kekuatan utama. Mereka memastikan bahwa meskipun erupsi sekunder terus terjadi, dampak buruk terhadap keselamatan publik dapat diminimalisir.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang terus mengapresiasi dan mendukung penuh peran Destana sebagai garda terdepan masyarakat. Mereka mengimbau agar semua pihak, termasuk pengendara, selalu mematuhi arahan relawan dan petugas demi keselamatan bersama, mengingat status Gunung Semeru yang masih siaga tinggi.