Banjir Berulang di Sumberwuluh Lumajang, Warga Minta Pemerintah & Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa TimurTinjau Ulang Drainase Jalan Nasional
- Nov 02, 2025
- SAMSUL ARIFIN
LUMAJANG – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, sejak Sabtu (1/11/2025) siang hingga malam, kembali memicu bencana luapan air parah di Dusun Krajan, Desa Sumberwuluh. Sekitar pukul 18.45 WIB, air dari selokan yang diduga tidak mampu menampung debit hujan yang ekstrem meluap deras, merendam sedikitnya lima (5) rumah warga dan menggenangi akses jalan nasional yang menjadi jalur vital antar-kota.
Peristiwa ini menjadi catatan kelam berulang bagi warga setempat, terutama bagi mereka yang tinggal persis di tepi selokan. Luapan air yang bercampur lumpur dengan cepat memenuhi permukiman warga dan membuat aktivitas di jalan nasional terhenti sementara.
Salah satu warga yang menjadi langganan banjir, Rohmah, mengungkapkan keputusasaannya saat ditemui di tengah genangan air. "Ya Allah, yo opo ki pak solusinya? Ngene terus omahe kelelep terus, selokannya tidak muat ini," ujar Rohmah dengan nada khawatir. Ia menambahkan bahwa kondisi ini terasa berbeda dan memburuk sejak adanya proyek pembangunan atau perbaikan jalan nasional di wilayah tersebut.
"Padahal dulu sebelum ada proyek jalan ini tidak ada kejadian seperti ini. Air ini sekarang meluap ke lima rumah warga dan juga ke jalan nasional. Kami bingung harus bagaimana lagi," tambahnya, mencerminkan dugaan bahwa perubahan kontur atau dimensi saluran air akibat proyek infrastruktur telah mengubah pola aliran air dan mengurangi kapasitas drainase.
Data dari BPBD Lumajang mengonfirmasi bahwa genangan air di Jalan Nasional Desa Sumberwuluh memang menjadi salah satu titik terdampak dari cuaca ekstrem yang melanda delapan kecamatan di Lumajang pada malam itu. Masalah luapan air di Krajan, Sumberwuluh, sendiri bukan hal baru; laporan keluhan serupa terkait drainase jalan nasional yang tidak memadai dan dugaan kesalahan konstruksi kerap muncul di tahun-tahun sebelumnya, memperlihatkan bahwa masalah ini adalah "persoalan klasik" yang belum tuntas.
Genangan air di jalan nasional tidak hanya mengancam permukiman, tetapi juga mengganggu kelancaran logistik dan transportasi umum. Para pengendara harus memperlambat laju kendaraan, bahkan beberapa di antaranya memilih berhenti total untuk menghindari risiko kecelakaan akibat genangan yang cukup tinggi.
Menanggapi keluhan warga, pemerintah desa setempat, yang dibantu elemen masyarakat, berupaya melakukan penanganan darurat dengan membersihkan sumbatan di selokan, meskipun upaya ini seringkali terhambat oleh besarnya volume air dan endapan sampah. Kepala Dusun Krajan sebelumnya pernah menggalakkan kerja bakti untuk membersihkan selokan, namun faktor kapasitas selokan yang kecil, ditambah dengan potensi pembuangan sampah sembarangan, membuat solusi jangka pendek sulit bertahan.
Masyarakat kini sangat berharap adanya tindakan nyata dan kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Lumajang dan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) untuk segera meninjau ulang dan memperbaiki sistem drainase di sepanjang jalan nasional Dusun Krajan. Solusi permanen yang mendesak diperlukan, seperti pelebaran atau pembangunan ulang saluran air, agar kekhawatiran dan kerugian yang dialami Rohmah dan 4 keluarga lainnya tidak terus berulang setiap kali hujan deras turun. Kejadian ini menjadi pengingat kritis bahwa pembangunan infrastruktur harus selalu mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan sistem drainase yang memadai.